Yang pergi ke Pusara

Perlu beberapa menit sampai aku benar-benar paham akan maksud pesan singkat itu. Dua baris kalimat yang berjarak satu enter.

Ketika aku paham maksudnya beberapa detik kemudian, seakan-akan langit menjadi gelap. Mungkin seperti itulah rasanya duka.

Kesedihan yang paling sedih adalah saat seseorang bersedih tapi kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Atau, lebih-lebih, kamu hilang dalam pemikiranmu. Berusaha mencari kata-kata yang tak ada. Di saat seperti ini, kamu merasa kesal karena seakan semua kata tidaklah cukup baik dan sopan untuk mengutarakan perasaan.

Tepat pada waktu seperti ini, aku seperti titik netral. Mati rasa. Hanya saja di saat seperti inilah aku merasa bahwa eksistensi seorang manusia lain adalah satu-satunya penenang. Sebuah usaha untuk sejenak lena dari duka. Hanya itulah yang ingin aku sampaikan, bahwa wahai teman di tempat yang jauh disana, aku menjamin sebuah ruang yang buka 24 jam dari 24 jam yang ada. Sebuah ruang yang kau bisa datangi kapan saja.

Aku paham bahwa kata-kata tidak cukup luas untuk mengerti makna bahwa seseorang tak pernah kembali dari pusara.

Bahasa yang paling baik untuk memahfumkannya adalah ruang sunyi tak bersuara.

Sebaik-baik cara agar duka dapat dipahami oleh raga, ialah memejam dalam diam.

 

Untuk Girish, yang kudoakan setegar karang untuk melewati kepergian sang amma.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s