Living the uncertainty.

That’s a funny thing comes up in to my mind, how we, human, living uncertainty for the whole life, looking the certainty. We are chasing something that we are not even possible to get closer to. Funny though? 

Manusia kadang tidak sadar bahwa hidupnya adalah ketidakpastian. Padahal nature manusia sendiri adalah ingin kepastian. It’s human, really human thing. How we want to settle down, in a certain condition, in a condition that we like, live our life peacefully, with no disturbance and threads. Saya berkeyakinan semua orang pada dasarnya begitu. Tapi hidup itu bahkan tidak mudah ditebak, it’s more than roller-coaster. It’s like super roller coaster, that brings you not even upside down, but also rotating 360 degrees with various speed. 

Kadang manusia tidak dapat menerimanya. Ada yang terlalu percaya bahwa hidup ini bisa dijaga konstan, sampai akhirnya hidup berubah dan gagal move on. Ada yang terlalu percaya bahwa dia harus berubah demikian cepat dalam ketidakpastian, sampai tersesat, lupa siapa dirinya. Berbahaya. 

Saya sendiri percaya bahwa, kita, manusia tidak diciptakan untuk terus mengikuti kecepatan berubahnya hidup. Kita ada sebagai penyeimbang cepatnya hidup. Kadang kita memang harus berhenti ketika banyak hal berubah. Like pressing ‘Hold’ button. And i think we are the hold button for other people. Seperti orang-orang dalam sejarah, yang membuat hidup ter’Hold’ di masa mereka. Atau bagaimana orang-orang yang berarti buat kita menciptakan kenangan sebagi ‘Hold Moment’ tempat hidup terasa konstan dalam memori ingatan. 

Saya yakin bahwa semua orang pernah mengalami dimana mereka sedang memutar memori mereka. Flashing picture of their old times, old days, old friends, old happy and sad moments, just in their minds, yang akan membuat rindu akan jaman-jaman terdahulu. See? Bagaimana orang-orang ingin masa lalu kembali, karena bagaimana hidup mereka telah berubah. 

What im  really considering here between the uncertain life and certain nature of us is, bagaimana kita bisa membuat hal yang berubah terasa konstan. How? Do something you really want in your life, people. Dreams. Hope. Bercita-citalah. Kejar cita-cita itu sampai mati. Wujudkan. Carilah tujuan kamu hidup. Temukan. That’s how you will stop the time. That’s the way you make your life feels constant, when you know what do you want in life. Ketika kamu telah mencapai apa yang ingin kamu lakukan, dan kamu menengok kebelakang, mengingat seberapa banyak waktu telah berubah, kamu akan menemukan satu hal yang tetap, perjuanganmu untuk mencapainya akan terasa tetap. Terasa konstan.

Saya percaya, bahwa setiap orang sesungguhnya telah menemukan tujuan hidupnya saat ia mulai merasa dan berpikir. Namun mungkin tidak semuanya tahu apa yang diinginkannya , bahkan sampai saat-saat terakhirnya. Entah mungkin karena dia tidak mau tahu, atau sebenarnya tahu tapi tidak sadar. Carilah apa tujuan hidupmu, rasakan apa yang kamu inginkan. Mungkin kamu tidak akan menemukannya semua sekaligus. Mungkin hari ini yang kamu temukan, ialah tujuannya, dan bertahun-tahun berikutnya yang kamu temukan ialah metodenya untuk mencapainya. (dikutip dari seorang teman :) ). Itu kenapa kamu lihat banyak orang-orang bercita-cita A namun kemudian dia menjalani profesi B. That’s how the chasing of your purpose of life works.

 

Satu hal lagi. My tips how to survive in this uncertainty. You have your own map and compass. I believe there are three compass or map you can always count on, your faith, your family,and the environment who made you grown up . Your faith, your religion, will lead you the right way you have to step in. Your family will remind you for who you trully are. Your environment, your best friends and companies, will strengthen your step and make you sure. :)

I hope that everyone who read this will find a way. That someday in the end of our life, we find our trully happiness or even bigger, a peace. :)

 

6 March 2012. di bawah ledakan pemikiran setelah obrolan panjang bersama Masramdhani Saputra.

my prayer and my hope for an Amazing YOU :)

Senin, 30 Januari 2012

* bubar kelas Elda sekitar pukul 11 pagi*

A big smile on my wish followed by unsaid prayer in my heart. God, i wish you grant this prayer for this person. Amin.

* A little while before that..*

Today was really something. A tight schedule from the early morning to atttend the class, in the day that most of people hate, Monday. Mata dan badan ini dipaksa untuk bangun dan siap atau tidak siap menerima kuliah Pembangkitan Tenaga Elektrik pagi ini. Terlambat dua menit, dan untung masih bisa masuk dan ikut kuliah tanpa sindiran dosen karena telat. Beruntung karena beberapa menit kemudian beberapa kawan terlambat dan mendapat ‘wejangan’ dari Pak Mukmin akan ketidaksenangannya pada mahasiswa yang tidak disiplin.

Ternyata kuliah berjalan cukup menyenangkan dan membuat semangat, karena materinya menurut saya menarik karena merupakan bahan baru yang belum kami dapatkan sebelumnya, dan Pak Mukmin menyampaikan dengan cara yang atraktif. Entah mengapa saya punya kebiasaan mengamati orang, dan dosen-dosen ini tak luput dari pengamatan saya ketika mereka mengajar. I like to read people. And i can conclude that I am impressed with Pak Mukmin. Dosen-dosen power ini memiliki keahlian masing-masing dan cara mengajar dengan style mereka sendiri, yang somehow makes me adore him and give a lot of respect to them. Mereka jago di bidangnya masing-masing, dan selalu membuat saya tersenyum kagum dengan cerita dan pola pikir serta pola pikir mereka akan berbagai hal yang menunjukkan bahwa mereka bukan sembarang orang. Menjadikan mereka di mata saya sekumpulan orang hebat, pekerja keras, dan motivator tanpa kata-kata berlebihan untuk memotivasi. Mereka menceritakan true story dan pengalaman perjalanan mereka yang i can call it incridible.

Lain halnya dengan Pak Mukmin yang santai namun disiplin,Pak Pekik membuat saya pribadi kagum dengan gayanya yang sedikit ‘belagu’ dalam artian baik,yang mengajar kuliah berikutnya, Elda. Dia salah satu one of our favorite lecturer karena selalu bisa membuat kami terbengong-bengong akan cerita pengalamannya yang ‘wah’ dan sedikit beyond belief.  Thanks God you let me met n knew these kind of people. Berada di tempat dimana banyak dosen yang tidak sekedar mengajar, namun lebih dalam dari itu, menginspirasi. Orang-orang ini luar biasa hebat menurut saya pribadi. Belajar teknik itu tidak mudah, apalagi lulus dan kemudian belajar lagi, lulus, belajar lagi dan akhirnya lulus s3 dan menjadi dosen, dan jago di bidangnya. Tidak semua dari mereka orang-orang jenius dan punya intelegensi di atas rata-rata, namun yang pasti mereka adalah orang-orang bertekad kuat dan pemberani.

But, beyond of the things i tell you above, saya pengen cerita kejadian setelah itu semua. Kuliah pagi ini diajarkan oleh orang-orang hebat sumber inspirasi saya, dan tiba-tiba terlintas di benak saya, sebuah nama.

Saya tersenyum dan berdoa, saya tahu bahwa suatu saat nanti dia bisa berdiri di tempat yang sama ini, menggantikan Pak Pekik, Pak Mukmin, atau dosen hebat lainnya, mengajar dengan cara dia sendiri, dan tanpa pernah kamu sadari dia menginspirasi dan menyemangati banyak mahasiswnya dengan style khasnya sendiri. Persis seperti apa yang terjadi pada saya hari ini.

Saya yakin, suatu  hari nanti dia dapat melakukan hal-hal hebat, karena saya tahu dia sangat mampu. Saya hanya perlu menyemangatinya dan memberitahu bahwa dia bisa, bahwa dia lebih dari sekedar mampu. Dan saya bisa membayangkannya ketika dia telah menjadi dosen, mencapai impian-impiannya, saya akan tersenyum lebar dan menjadi orang pertama yang memberinya selamat di wisuda terakhirnya, dan mengatakannya bahwa ialah salah satu inspirasi dan motivator terbesar saya dalam hidup saya, entah sejak kapan, untuk menulis, untuk bekerja keras, untuk menjadi orang yang sabar, dan untuk pencapaian saya ke depan yang tak kalah luar biasanya.:)

Semoga harapan dan doa saya itu dikabulkan oleh Tuhan, dan apabila dikabulkan, saya pastikan bahwa itu salah satu karunia terbesar untuk saya, one best of the best moment in my life.

—————————————————————————————————————————————————-

To someone,

Never stop believing and work hard, you know you can :”)

 

Mass media, this is why i dissapointed on you

Selasa, 24 Januari 2012

Sore-sore lagi nganggur di kosan, akhirnya liat TV ganti- ganti chanel. Dari satu stasiun TV lokal ke stasiun TV lokal yang lain pencetan remote aku ini cuma berganti-ganti dan akhirnya kembali ke chanel paling awal, kaya program repeat until yang ga menemukan titik akhir state until nya dimana, karena klasifikasi end state nya adalah acara yang menarik.

Biasanya kalo sudah putus asa kaya begini, ujung-ujungnya adalah nonton berita aja di TVone atau Metro TV, biar agak gaul dikit dan sok-sokan produktif. Tapi setelah aku amat-amati akhir-akhir ini aku mulai agak males nonton berita. Soalnya dari sekian belas stasiun TV lokal yang menyiarkan berita, semuanya suka mengulang-ulang konten isi berita, yah ini wajar sih buat pelayanan penyampaian informasi secara luas, tapi yang aku garis bawahi ialah stasiun TV yang memutar berita yang sama, non-stop 3 kali pagi siang sore selama 3 hari, dan biasanya dibahas secara mendetail dengan tambahan talkshow narasumber terkait. Nggak jauh berbeda kaya minum obat antibiotik, yang ga afdol kalo ga abis.

Sebenernya aku ga keberatan dengan cara penyampaian berita melalui talkshow yang mendatangkan narasumber, bagus sih untuk melihat suatu isi berita dari berbagai sudut pandang supaya kita bisa lebih open minded. But thing that really bother me is kalo di talkshow itu, kebanyakan narasumber yang diundang, dan kadang mereka berakhir dengan argumen masing-masing seolah talkshow cuma jadi media pembenaran argumen masing-masing. Dan ga jarang mereka cuma jadinya adu mulut dan konten yang dibicarakan kemana-mana banget. Hey i don’t want to watch you argue each other, i just want to hear your clear different opinion, for God sake!  ya kali yah acara debat kusir sok silahkan. Kaya kasus talkshow di salah satu stasiun TV kemaren yang membahas anggaran renovasi ruang Banggar DPR. Yang akhirnya cuma menyisakan kesal dari aku sebagai penonton dan rentetan cemoohan dan komentar yang panjang. Apalagi bagi orang awam yang baru liat, tau-tau udah scene silat lidah adu mulut, ga tahu dari awal dan akhirnya berita yang tersampaikan cuma sepenggal-sepenggal, ga utuh dan penuh distorsi.

Selain hal itu yang bikin miris lagi di tayangan berita masa kini,adalah tingkat penyiaran berita yang kontennya negatif. Too much negativity makes our mind sick i think. Random sample aja, kemaren dalam satu jam siaran berita, berita yang disiarkan adalah masalah dana renovasi banggar, demo buruh yang bikin macet tol, kecelakaan di Tugu Tani, kriminalitas dalam transportasi publik (pemerkosaan di angkot), penculikan bayi modus baru, dan karya-karya mobil buatan anak SMK. Dari sekian banyak berita, semuanya negatif dan cuma satu yang positif, si mobil Kiat Esemka. Tapi aku agak menyayangkan, pro-kontra tentang mobil Kiat Esemka ini juga menghantui berita positif itu sendiri, semua orang berdebat gimana inovasi ini bisa bertahan atau tidak, yang ujung-ujungnya cuma menenggelamkan harapan dan kebanggaan yang positif sebagai ruh dari berita itu.

Intinya dari semua yang aku utarakan barusan adalah, menurut pendapat aku, rakyat Indonesia sekarang sudah sangat krisis percaya diri dan krisis kepercayaan pada pemerintah. Apalagi golongan menengah ke bawah yang hidup jauh dari kata sejahtera, yang jumlahnya bahkan dua-per-tiga keseluruhan negeri ini. Sudah lama bumi pertiwi ini menangis menyaksikan semua yang terjadi di tanahnya dalam hampir 50 tahun terakhir. Yang kita butuhkan ialah optimisme bahwa harapan itu masih ada, dan menyebarkannya. Dera badai pesimisme yang kian hebat telah memadamkan jutaan harapan orang-orang kecil, yang tak tahu harus berbuat apalagi selain berharap. Cukup sudah aku pikir puluhan berita negatif yang membuat rakyat kita semakin putus asa, dan mencari jalan pintas demi menyambung hidup saja. Aku berani bertaruh kalo jumlah berita yang baik-baik disiarkan setidaknya 80 persen dibanding berita negatif, angka kriminalitas setidaknya akan turun, karya anak bangsa semakin bertambah, dan hidup orang-orang lebih bersemangat karena berita tersebut bagaikan udara segar di tengah porak porandanya negeri ini.

 

Entah bagaimana caranya, entah apa pun beritanya, jangan lelah untuk berharap teman-teman, entah sekecil apa pun harapan yang kamu percayai bahwa suatu saat negeri ini makmur tak kurang suatu apa, hidup damai rukun dan sentosa itu masih ada. Yang kita butuhkan adalah menjaga harapan itu untuk tetap hidup dan tak meredup, dan memberi semangat kepada saudara-saudara kita bahwa harapan itu masih ada, dan bisa terjadi kalau kita percaya.

 

*NB : please for mass media i beg you to at least, considering my thought to reduce the negative news. You never know until you try. :)

Saya siap tinggal landas, anda?

Malang, 31 Desember 2011

Hari terakhir dalam rangkaian 365 hari ke belakang. Sebagian meneyebutnya akhir, ada yang lebih setuju puncak, atau bahkan awal. Saya setuju atas ketiganya. Akhir dari sebuah perjalanan dalam batasan waktu setahun, puncak atau limit dimana kita diberi waktu untuk menengok apa yang terjadi setahun ke belakang, dan awal untuk menuju 365 hari baru setahun ke depan.

Gegap gempita 2012 seakan sudah nyaris di depan mata, menunggu sebentar lagi untuk meledak di penghujung hari. Tahun 2011 sudah siap ditinggalkan dari landasan pacu, dengan segala memorabilia di dalamnya. Semua orang siap berkemas menuju tahun yang baru. Dan kini giliran saya berkemas meninggalkan yang tidak perlu dn membawa bekal yang dikira dibutuhkan.

Koper perjalanan 2012 saya pandangi masih bingung. Tahun 2011 lalu ketika saya di titik yang sama, tanggal 31 desember 2010, saya begitu ambisius dan cenderung terbawa arus bepergian orang2. Daftar resolusi perjalanan saya sudah dicatat sedikit muluk dan tak tertata, banyak berisi keinginan mentah yang tak berstrategi. Setahun sudah saya berlalu dan saya sekarang tidak mau terjebak pada kondisi yang sama, mengarungi perjalanan dengan sebuah resolusi panjang lebar yang merupakan harapan saja. Saya akan mengarungi tahun 2012 saya tidak secara menakjubkan karena perencanaan yang matang dan daftar resolusi yang bak target kejar setoran yang harus tercapai di akhir tahun. Saya menginginkan 2012 saya menjadi perjalanan yang menakjubkan karena kejadian yang saya maknai dengan sungguh2 bukan karena ada kejadian menakjubkan yang terjadi. Karena bagi saya pribadi kita tidak bisa membuat suatu keajaiban terjadi, keajaiban itu murni kejutan, namun sebenarnya kita banyak menemukan hal ajaib ketika kita tahu makna hal-hal biasa.

Pun, catatan resolusi saya masih kosong. Kemarin saya sempat menulis di akun twitter “saya ingin lebih rajin dhuha n bangun malam, lebih sabar, think positive, dan…..” Saya berubah pikiran hari ini. Itu daftar resolusi mentah. itu bahkan bukan sebuah resolusi. Itu hal-hal yang sudah harus ada dalam diri saya entah besok tahun baru atau bukan. Tahun baru cuma pengingat bahwa hal-hal dalam daftar itu belum mencukupi. Saya butuh resolusi yang lebih simpel, lebih general, dan tidak tercakup dalam sebuah target namun ketika berhasil itu merupakan pencapaian yang selama ini belum pernah saya capai.

Saya menimbang-nimbang, apa koper resolusi saya terlalu besar untuk perjalanan ini. Apa sebaiknya saya ganti dengan yang lebih kecil saja, yang praktis dibawa kemana-mana, yang fleksibel, dan kompatibel untuk segala situasi. Siapa tahu saya akan jatuh dari pesawat dan terdampar di pulau yang sama sekali asing, dan koper besar ini tak terbawa? Atau mungkin saya mendarat aman di tempat tujuan namun saya harus berlari-lari dalam perjalanan waktu 2012 yang tak disangka-sangka, berat sekali berlari dengan membawa koper resolusi sebesar tahun kemarin.

Oke saya putuskan koper ini saya ganti dengan tas pinggang saja. Tas pinggang ini berisi catatan kecil apa yang telah saya lakukan di tahun lalu, dan tujuan  hidup saya. Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat dalam setiap hal yang saya lakukan kepada sekitar saya. entah itu besar atau kecil, yang penting saya memberikan apa yang terbaik yang saya punya. Semoga tas pinggang ini cukup menemani perjalanan saya di tahun 2012 kelak. Siapa tahu dalam plesir saya di tahun depan, banyak ‘buah tangan’ yang bisa dibawa, mungkin saya bisa beli koper kalo ‘buah tangan’ saya sudah banyak haha.

Saya sudah berkemas, menunggu tahun 2012 mengudara, memberikan perjalanan liar yang sama sekali tidak saya tahu, tapi setidaknya saya siap menaklukannya dengan optimisme tiap langkah, senyum bahagia, dan pemikiran terbuka akan hal-hal yang mungkin terjadi.

Saya sudah siap, bagaimana dengan anda?

 

 

Selamat tahun baru,

Kawan perjalanan anda di 2012

 

Bogor,hatiku pilu dan tersayat

Pernahkah kamu berpikir bahwa sebenarnya kamu adalah orang-orang yang sangat beruntung? Mungkin banyak yang menjawab pernah, sering bahkan.

Namun, seberapa seringkah kita bersyukur atas beruntungnya diri kita? entah kamu menjawab apa, namun aku sering lupa.

Perjalanan ke bogor ini ternyata bukan perjalanan tanpa makna, bahkan ternyata perjalanan ini memberikan sayatan hati yang mendalam untukku. Awalnya tujuan aku ke bogor cuma untuk menemani ibu untuk berkunjung ke rumah pakde, soalnya pakde baru buka toko burung di bogor.  Tokonya terletak di daerah Batu Tulis, dekat Istana Batu tulis. Kami berangkat pagi2 sekali naik bis. Sesampainya aku di Bogor, aku dan ibuk langsung makan siang dan bertemu pakde. Kami melihat-lihat toko barunya sembari mengobrol.

Pakde menceritakan awal mula bagaimana dia mendapatkan tempat yang strategis seperti itu. Obrolan kian renyah, sampai pakde menceritakan bahwa di belakang tokonya itu terdapat gubuk reot yang ditinggali 4 bersaudara nenek2 tua renta. Kondisinya sangat memprihatinkan katanya, seorang lumpuh karena stroke selama lima tahun, seorang tuli, dan dua orang lainnya bungkuk dan jalannya terseok-seok. Mereka tak punya sanak dan saudara, hanya seorang putra dari nenek yang tuli, bekerja sebagai kuli batu. Mereka hidup dengan sangat minim dan terbatas di sebuah gubuk tidak lebih luas dari 4×4 meter. Nenek yang bungkuk tersebut masih bekerja sehari-harinya sebagi tukang sapu kuburan, yang upahnya tidak menentu. Pakde juga cerita bahwa nenek yang sakit stroke makan dari makanan yang diletakkan di sampingnya yang sudah termakan tikus dan kucing. “Kasihan ya pakde,” aku berkata. Aku miris mendengarnya. Tapi obrolan pun bergulir dan berganti topik, tetap berlangsung renyah.

Sejam kemudian, ibu dan aku memutuskan untuk pamit pulang ke Bandung. Sebelum pulang, ibuk bilang ke pakde bahwa ibuk mau menengok rumah nenek-nenek tua tadi, dan memberikan sedikit uang pada mereka. Pakde pun menunjukkan kami dan mengantar kami ke rumahnya.

“Astagfirullah,” perasaanku langsung hancur melihat rumah gubuk yang reot dengan keempat nenek yang nasibnya menyedihkan itu. Hatiku perih seakan disayat, air mataku dan ibu meleleh seketika. Bayangan pemandangan ini berbeda dengan yang lainnya. Berbeda, biasanya aku hanya melihat di TV, di acara reality show kemanusiaan. Kulihat nenek yang sakit terbaring di pojok kamar tidur beralaskan tikar dan koran sekenanya, kurus kering bergulat meregang nyawa. wajahnya sayu, matanya menyiratkan berat hidupnya yang harus ditanggung. di sisinya ada piring makan berisi nasi yang dimakan kucing-kucing yang berkeliaran. Di pojok yang satu lagi kulihat nenek yang tuli, terbaring lemah pula. Nenek yang bungkuk menjelaskan aku dengan bahasa indonesia yang patah-patah, selebihnya sunda yang kental  Aku mencoba mengerti apa yang dikatakannya, bahwa nenek yang tuli tidak bisa jalan karena tertabrak motor minggu lalu.

Ibu kemudian memberi masing-masing nenek uang secukupnya. Nilai itu mungkin sangat kecil dan takberarti buat kita, makan Mcd pun mungkin ga cukup. Tapi buat orang-orang seperti itu, itu merupakan berkah yang luar biasa. Aku tak sanggup melihat ekspresi bahagia dan senyum serta ucapan terima kasih tanpa henti. nenek yang bungkuk itu memegang tanganku, dan berkata dalam bahasa sunda yang tak aku mengerti. Entah karena pengapnya udara di dalam gubuk yang tak berlampu dan tak berjendela itu, ataukah karena suasa hatiku yang bercampur aduk, hatiku pilu dan sesak rasanya.Kami pun segera mohon pamit dan pulang ke bandung.

Sepanjang perjalanan pulang aku diam termenung dan berpikir. Aku jadi memperhatikan orang-orang sekitar dalam perjalanan pulang lebih seksama.

——————————————————————————————————————————————

Perjalanan Leuwi panjang- Dago.

Sesampainya di Bandung aku dan ibuk memilih naik bis damri jurusan Leuwi Panjang-Dago. Sesak penuh ragam manusia. Dengan raut muka ekspresi berbeda, status sosial berbeda, masalah berbeda, dan nasib yang berbeda.

Ibuk bilang ” Dhzolim ya nak, para koruptor itu, mereka masih aja bisa mengambil uang yang bukan mereka, padahal ada orang-orang seperti tadi, mereka mungkin ga pernah ngelihat ya orang-orang dengan penderitaan seperti itu secara langsung, mereka kan naik mobil bagus dan kerjanya di kantor yang bagus, kita harus bersyukur bisa melihat hal-hal seperti itu tadi.” Dalam hati aku mengiyakan.

Pertanyaan muncul dalam benakku. Berapa kali pejabat-pejabat itu menginjak tanah yang sama seperti tanah yang diinjak nenek-nenek itu tadi? Tanpa sepatu dan karpet kantor mereka yang tebal. Berapa kali mereka menghirup udara yang sama dengan udara pengap yang orang-orang rasakan di bis ini? Berapa kali mereka bersentuhan dengan orang-orang teraniaya seperti ketika nenek tadi mencengkram tanganku? Aku bertaruh, mereka yang masih bisa korupsi tidak pernah. Jika mereka pernah, mereka ga akan sampai hati. Bahkan nafsu makan ku hilang seketka melihat kenyataan begitu pahit.

Aku berkata pada diriku sendiri, bahwa suatu saat nanti jika aku punya anak dan keluarga, aku mau mengajak mereka naik bis kota yang umpal-umpalan ini, mau mengunjungi rumah di kampung dan gang-gang, membuat mereka sadar bahwa mereka adalah orang-orang beruntung yang harus bersyukur, seperti yang dilakukan ibuku padaku hari ini.

Kawan, aku percaya bahwa kita dijadikan lebih beruntung dari orang-orang lain karena suatu alasan. Kita dijadikan lebih beruntung untuk memberi arti bagi orang-orang kurang beruntung di sekitar kita, memberi hak-hak mereka yang ada dalam setiap sen harta kita, sebagai terima kasih kita karena mereka memberi arti pada kita, untuk pengingat bahwa kita harus bersyukur.

Subhanallah.

Sabtu 10 Desember 2011, dalam suasana hati yang masih kacau.

who you really are seriously?

I have a screwed terrible day today. I need books or at least something to read. I turn on my laptop, and just now i started to read blogs. I found something interesting link in one of them. I clicked that link. Fortunately in the end i got a bonus, i knew who i am,and i found how to know myself better.

I think i miss myself, more than i miss any body else. 

i took this  personality test, and this was the best fit to my real personality.

You are considered as Engaged Idealists.

Engaged Idealists like you are extroverted and helpful. Others find you to be very congenial and inspiring – especially as you are always willing to see the best in the other person. Your humour, your energy and your optimism attract other people. Engaged Idealists are very good at communicating and are good at convincing and firing on others. That is why it is a matter of course that you often take over the leading role in groups. Your personality type often produces very charismatic persons.

Engaged Idealists have an unusually strong ability to empathise. You are tolerant and generous towards others; you sometimes tend to idealise your friends. You always try to suit everybody and want your relationships to be harmonious and satisfactory. To achieve this, you are prepared to invest a great deal and to put your requirements last. As Engaged Idealists are very considerate, there is the danger of you sacrificing and overexerting yourself for others. In your job, you therefore have to be very careful not to develop a burnout syndrome.

As an Engaged Idealist you are one of the extroverted personality types. You enjoy working in a colorfully diverse group of people who interest and inspire you. Working in a “secluded room” is not your thing. You enjoy emphasizing with those around you and soon everybody senses the high priority and importance people represent to you. Therefore a team-oriented project is just right for you.

Your insight into human nature, your feel for your colleague’s and/or subordinate’s positive sides and potentials and your preparedness to encourage and support everyone around you to the best of your ability quickly brings them closer to you. People like to ask you for advice, appreciate your caring ways and appreciate to be taken under your wings. Within your means you are always available to others who need you because you yourself enjoy the ultimate gratification of being able to help others to make the best of themselves and to be successful mediating conflicts among people.

You are well suited to be an executive: It is difficult to resist your charisma, your enthusiasm and your ability to excite and motivate others. Authoritarian management attitudes are not your thing; it is your way to convince others of a project’s reason and significance who will then look forward to follow you voluntarily. You place a lot of value on creating the willingness to cooperate in others and with your gift to motivate that usually comes easy to you. You do not enjoy conflicts, need harmony and invest lots of energy and time in a good working climate and a harmonic relationship of your colleagues among each other.

 

sometimes, many things that happened to you can disguise your real personality, until you get lost, and worst, you don’t know who you are anymore.

be careful, people. Thanks god i haven’t lost mine.

I think i’ve gone so far from who i really am, but i am glad this personality test bring me back, reminds me who i am.

 

:”)

i found this video couple days ago when i had nothing to do. I love it very very very deeply much. Someday i wish my husband do things in this video to me :)

Kenapa orang jawa pinter? Karena mereka SARAPAN!

Kuliah TTT pagi ini menggelitik. Setelah satu jam terkantuk-kantuk, akhirnya ada juga momen2 15 menit terakhir dimana bikin mata melek karena si dosen, Bapak Djoko Darwanto, seperti biasanya membuat jokes2 yang kadang garing kadang enggak.

Pak Djoko :” ….Buku ini sangat bagus ya, karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman oleh Dieter Kind….. Tentang isolasi pada saluran…..(bla bla bla menceritakan tentang buku pedoman kuliah)…. “

Aku : (masih ngantuk, memperhatikan sedikit2)

Pak Djoko : ” …(melanjutkan tentang buku terjemahan jerman itu tadi.)….Kalian tahu buku ini dibuat buku pegangan di *salah satu institut terbaik di jerman,tapi lupa namanya*, tempat Prof. Sirait, doktor pertama lulusan institut tersebut dari Indonesia,  itu loh Prof. Sirait… yang mendirikan lab tegangan tinggi di ITB….”

Aku : ” Wah jago yah, pasti pinter banget nih Prof Sirait ini… jadi doktor pertama lulusan Jerman dari Indonesia…”

Pak Djoko :” Saya yang keduanya loh….”

Aku : (kaget tiba2) ” Alamaaaak jago juga si bapak! ealah ternyata kalo orang pinter mau sombong ga keliatan menyombong yah..”

Pak Djoko : ” (mulai bercerita tentang sistem pendidikan Jerman dan mulai beropini mengenai sistem pendidikan Indonesia)…. Kalian tahu apa yang salah dari sistem pendidikan di negara kita?”

Aku : ” nggak paak…”

Pak Djoko :” Karena di sini, yang pinter masuk ipa yang bodoh masuk ips. negara ini membedakan murid sma berdasar ipa dan ips. padahal menurut saya harusnya pendidikan itu dibagi dua tipe, yang doing dan yang analysis. Kalo anda suka mikir, suka menganalisis, masuk sma, lulus, lalu jadi sarjana, kalo anda suka mengerjakan, masuk sma, lalu masuk politeknik. Nah di sini di bedainnya salah, malah IPA dan IPS. padahal kedua bidang itu sama2 butuh orang2 yang suka mikir dan butuh orang2 yang practical. Makanya negara kita ga maju2. Yang mikir banyak, padahal ga semua suka mikir (baca: kuliah di universitas), tapi yang doing sedikit…..”

Aku : (mulai fokus mendengarkan, bahasannya menarik, mengangguk2 setuju)

Pak Djoko :” Kalian tahu apa lagi yang salah? Menurut kalian pelajaran apa yang paling penting di SMA?”

Aku dan yang lain : (sahut2an menjawab) “Fisikaa….Matematik paaak…”

Pak Djoko : ” Salah, seharusnya kalo anda suka mikir, jadi analyser, otak anda itu harus dibiarkan bekerja secara bebas, dibuat berimajinasi, harus kreatif, harus berbudaya…”

Aku dan yang lain :” berarti yang penting pelajaran kesenian pak!” (menyimpulkan dan mengangguk2)

Pak Djoko : ” Yang terpenting itu pelajaran bahasa sodara-sodara…”

Kita semua : ” nahloooohhhhhhh”

Pak Djoko : ” Karena manusia itu ketika berpikir, mereka dapat berimajinasi, kemudian menyimpulkan sesuatu, dan kemudian mereka menyampaikan apa yang mereka pikirkan itu dengan mengkomunikasikannya, dengan bahasa mereka…..  Coba misalnya ada pelajaran bahasa terus kalian disuruh berpidato sebagai Ken Arok, yang pasti sebelum kalian berpidato kalian bakal cari tahu siapa Ken arok itu, apa yang dia lakukan dll, jadilah anda belajar sejarah, anda belajar bahasa jawa karena ken arok orang jawa…”

” nah, tapi yang tak kalah penting itu pelajaran filsafat, bagaimana anda diajari tentang apa itu ilmu, apa itu budaya anda, karena ketika anda mengenal budaya anda, dalam diri anda akan tertanam yang namanya value atau nilai2 yang harus anda pegang seumur hidup…. Bangsa Indonesia ini ga pinter2 soalnya ga menjaga budaya mereka, karena anda generasi tidak berbudaya… Mana di sini yang orang Jawa? Kalian tahu surat Centhini? Kalian tahu gending Ilir-ilir?  tahu pasti, tapi kalian ga tahu maknanya, padahal semua nilai-nilai yang harus kalian punyai sebagai orang jawa dan orang Indonesia ada di dalam situ…”

“Kalian tahu kenapa orang Jawa pinter? “

Aku : ” Soalnya masih memegang budayanya pak…”

Pak Djoko : ” Bukan, karena orang Jawa setiap hari sarapan…hahahahahahaha….”

Aku : (ikut tertawa bersama yang lain)

Tumben. jokes nya si bapak ga garing. Namun setelah beliau pergi meninggalkan kelas aku jadi tahu makna jokes terakhir beliau.

Orang jawa pinter karena sarapan setiap hari. Sarapan setiap hari adalah budaya mereka. Dimana sarapan adalah suatu kebiasaan rutin ketika semua orang di rumah atau setiap member keluarga dapat duduk bersama setiap pagi, bersiap-siap beraktivitas, menolerir saudaranya ketika ada yang terlambat datang untuk ke meja makan,  percakapan singkat di pagi hari, biasanya bapak baca koran dan sedikit2 cerita apa yang ditulis di koran, pengaturan waktu makan dan mengunyah biar berangkatnya ga telat, dan momen menghargai ibu yang telah bangun lebih pagi dengan menghabiskan sarapan padahal perut masih mual. Sebuah budaya simple yang sarat makna dan nilai. :)

yang aku baru sadar. What a nice kuliah. Kuliah dengan dosen2 power ini emang terkadang sesuatu banget yah. :)

*diceritakan kembali berdasarkan kisah nyata tadi pagi dengan gaya cerita oleh penulis sendiri, beberapa disadur dan didramatisasi, dengan pemahaman pribadi si penulis. Tapi kurang lebih begitu. Mohon maaf apabila sedikit menyinggung ras dan jenjang pendidikan. No hard feeling lah ya.*

————————————————————————————————————-

Makna Lagu ilir-ilir

Lir-ilir, Lir Ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Cah Angon, Cah Angon
Penekno Blimbing Kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo Mbasuh Dodotiro

Dodotiro Dodotiro
Kumitir Bedah ing pinggir
Dondomono, Jlumatono
Kanggo Sebo Mengko sore

Mumpung Padhang Rembulane
Mumpung Jembar Kalangane
Yo surako surak Iyo!!!

Tembang diatas pasti sudah akrab ditelinga kita
apalagi bagi orang-orang jawa yang notabene berada dalam wilayah penyebaran agama Wali Songo
tidak sedikit orang yang mencoba untuk menguraikan makna tembang diatas baik dalam konteks hubungannya dengan sejarah, syariat Islam bahkan Hakikat yang terkandung di dalamnya.
pada tulisan singkat ini Khaylif mencoba untuk sedikit menguraikan makna dari tembang tersebut, jika ada kekurangan atau kesalahan adalah karena keterbatasan Khaylif dalam pemahaman semoga Alloh memaafkan dan jika ada kebaikannya hal itu semata-mata datang dari Alloh SWT
Makna tembang tersebut menurut Khaylif:

1.  Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)

Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)

Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)

Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)

Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

2   Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)

Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)

Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)

Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)

Makna: Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya?

Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya.

Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa.

3.  Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)

Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)

Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)

Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)

Makna: Pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.

4.  Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)

Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)

Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)

Makna: Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas (no 1-3) ketika kita masih sehat (dialambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!

Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya

Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

i love apple pie only if you are my apple :)

this is about a simple silly video i found in someone’s page in facebook. I like it too.

i ‘m not a big fan of apple pie, but maybe i turn to like it. :)

for a silly crazy man that complete me :) . Masramdhani Saputra.

how about another idea that you are my Simba and im your Nala? (simba the lion king)

 

Possession and me – how I found a good reason to write.

selasa, 04 okt’ 2011

@ my kosan, always, watching hbo

 

I’ve just arrived from campus this evening and I decided to turn my tv on. Laying on the bed and feel sleepy because im tired- just because it’s so damn hot outside and I sweat a lot- I turn the channel into HBO. The movie title is Possesion and the story is about writing, letters, and love story that happen in Victorian age in England that still unravel. here are the synopsis.

In Neil LaBute‘s film adaptation of A.S. Byatt‘s Booker Prize-winning 1990 novel, Aaron Eckhart (who has starred in all of LaBute‘s films) plays Roland Michell, an American academic researcher, working in London, who discovers some important letters written by a famous Victorian poet, Randolph Henry Ash (Jeremy Northam [Gosford Park]). Ash was presumed to have been totally devoted to his wife, but Roland finds letters written to another unnamed woman, and soon determines that the intended recipient was another, less well-known poet, Christabel LaMotte (Jennifer Ehle ofSunshine). Roland contacts Maud Bailey (Gwyneth Paltrow), an expert on LaMotte’s life and work, who tells him that LaMotte couldn’t have had an affair with Ash because she lived most of her life with a female companion, Blanche Glover (Lena Headey), in what was apparently a romantic relationship. Despite Maud’s skepticism, the two begin to investigate, and uncover a wealth of information about the affair between the two poets. Period scenes of the illicit relationship between Ash and LaMotte are intercut with the contemporary investigation of the two academics. Roland and Maud initially fight their attraction to each other, but as the pair find more evidence of the historical and tragic romance, they find themselves overcoming their own resistance to romantic entanglement. Possession was kicked around as a film project for a long time beforeLaBute became interested. Director Sydney Pollack originally was slated to film a screenplay by David Henry Hwang (M. Butterfly), who receives a credit on the finished film. When LaBute took over the project years later, he reworked the screenplay withLaura Jones (The Portrait of a Lady). ~ Josh Ralske, Rovi

dan sesuatu yang menarik tiba-tiba muncul di kepala yang sudah lama kosong dan tidak bersemangat setelah film itu selesai. Film yang menceritakan bagaimana penyair jaman dahulu dikagumi oleh generasi sekarang dan bagaimana kita bisa mengenal seseorang yang bahkan hidup 2 abad sebelum kita dengan cara yang sama, tulisan dan puisi-puisi karyanya.

Menarik. Something about the film inspired me. I found my own reason why I have to (like to) write about me, my self, my studies, my era, the world or everything else I can write about. Film itu bikin terinspirasi bahwa dimensi waktu bukanlah halangan untuk mengetahui hal-hal yang terkubur di masa lalu, selama kita punya alatnya. Bukan mesin waktu, bukan. It’s just a simple piece of their writing, their notes. Para ilmuwan jaman dulu bahkan bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dari catatan ilmuwan terdahulu. Bagaimana sejarawan menceritakan sejarah bangsanya berdasarkan catatan dan dokumen lama semasa perang. Bagaimana orang-orang masyhur dan legendaries memamerkan digdayanya dengan biografinya.

Dan klimaks dari kesan yang mendalam dari film ini buat aku adalah ketika aku tahu untuk apa aku menulis. Perasaan yang liar, senang, membuncah ketika film ini dapat mendorongku menarik kesimpulan dan menjawab buat apa aku sejatinya menorehkan kata-kata ini. Kata-kata yang selama ini aku tulis rapi, penuh makna dan cerita pengalaman pribadiku yang mungkin hanya penting buat aku sendiri. Yang mungkin di kemudian hari pun belum tentu dibaca orang banyak, dan menjadi terkenal. Haha, it’s not my purpose when I write ternyata. Entah mengapa aku senang sekali setelah menonton film ini, dan kesenangan akan terjawabnya pertanyaanku selama ini semakin membuat aku semangat untuk menulis. Thanks possession, thanks to you too HBO.

———————————————————————————————————–

Why do I write? What for I write my story? Why I have to tell my story for my child and grand child someday?

 I write not because I want to be famous, or being honored by my future generation. But I write because I want them to know me well, even when I’m gone, and I want them to keep me alive at least in their mind and heart.

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.