Kuliah TTT pagi ini menggelitik. Setelah satu jam terkantuk-kantuk, akhirnya ada juga momen2 15 menit terakhir dimana bikin mata melek karena si dosen, Bapak Djoko Darwanto, seperti biasanya membuat jokes2 yang kadang garing kadang enggak.
Pak Djoko :” ….Buku ini sangat bagus ya, karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman oleh Dieter Kind….. Tentang isolasi pada saluran…..(bla bla bla menceritakan tentang buku pedoman kuliah)…. “
Aku : (masih ngantuk, memperhatikan sedikit2)
Pak Djoko : ” …(melanjutkan tentang buku terjemahan jerman itu tadi.)….Kalian tahu buku ini dibuat buku pegangan di *salah satu institut terbaik di jerman,tapi lupa namanya*, tempat Prof. Sirait, doktor pertama lulusan institut tersebut dari Indonesia, itu loh Prof. Sirait… yang mendirikan lab tegangan tinggi di ITB….”
Aku : ” Wah jago yah, pasti pinter banget nih Prof Sirait ini… jadi doktor pertama lulusan Jerman dari Indonesia…”
Pak Djoko :” Saya yang keduanya loh….”
Aku : (kaget tiba2) ” Alamaaaak jago juga si bapak! ealah ternyata kalo orang pinter mau sombong ga keliatan menyombong yah..”
Pak Djoko : ” (mulai bercerita tentang sistem pendidikan Jerman dan mulai beropini mengenai sistem pendidikan Indonesia)…. Kalian tahu apa yang salah dari sistem pendidikan di negara kita?”
Aku : ” nggak paak…”
Pak Djoko :” Karena di sini, yang pinter masuk ipa yang bodoh masuk ips. negara ini membedakan murid sma berdasar ipa dan ips. padahal menurut saya harusnya pendidikan itu dibagi dua tipe, yang doing dan yang analysis. Kalo anda suka mikir, suka menganalisis, masuk sma, lulus, lalu jadi sarjana, kalo anda suka mengerjakan, masuk sma, lalu masuk politeknik. Nah di sini di bedainnya salah, malah IPA dan IPS. padahal kedua bidang itu sama2 butuh orang2 yang suka mikir dan butuh orang2 yang practical. Makanya negara kita ga maju2. Yang mikir banyak, padahal ga semua suka mikir (baca: kuliah di universitas), tapi yang doing sedikit…..”
Aku : (mulai fokus mendengarkan, bahasannya menarik, mengangguk2 setuju)
Pak Djoko :” Kalian tahu apa lagi yang salah? Menurut kalian pelajaran apa yang paling penting di SMA?”
Aku dan yang lain : (sahut2an menjawab) “Fisikaa….Matematik paaak…”
Pak Djoko : ” Salah, seharusnya kalo anda suka mikir, jadi analyser, otak anda itu harus dibiarkan bekerja secara bebas, dibuat berimajinasi, harus kreatif, harus berbudaya…”
Aku dan yang lain :” berarti yang penting pelajaran kesenian pak!” (menyimpulkan dan mengangguk2)
Pak Djoko : ” Yang terpenting itu pelajaran bahasa sodara-sodara…”
Kita semua : ” nahloooohhhhhhh”
Pak Djoko : ” Karena manusia itu ketika berpikir, mereka dapat berimajinasi, kemudian menyimpulkan sesuatu, dan kemudian mereka menyampaikan apa yang mereka pikirkan itu dengan mengkomunikasikannya, dengan bahasa mereka….. Coba misalnya ada pelajaran bahasa terus kalian disuruh berpidato sebagai Ken Arok, yang pasti sebelum kalian berpidato kalian bakal cari tahu siapa Ken arok itu, apa yang dia lakukan dll, jadilah anda belajar sejarah, anda belajar bahasa jawa karena ken arok orang jawa…”
” nah, tapi yang tak kalah penting itu pelajaran filsafat, bagaimana anda diajari tentang apa itu ilmu, apa itu budaya anda, karena ketika anda mengenal budaya anda, dalam diri anda akan tertanam yang namanya value atau nilai2 yang harus anda pegang seumur hidup…. Bangsa Indonesia ini ga pinter2 soalnya ga menjaga budaya mereka, karena anda generasi tidak berbudaya… Mana di sini yang orang Jawa? Kalian tahu surat Centhini? Kalian tahu gending Ilir-ilir? tahu pasti, tapi kalian ga tahu maknanya, padahal semua nilai-nilai yang harus kalian punyai sebagai orang jawa dan orang Indonesia ada di dalam situ…”
“Kalian tahu kenapa orang Jawa pinter? “
Aku : ” Soalnya masih memegang budayanya pak…”
Pak Djoko : ” Bukan, karena orang Jawa setiap hari sarapan…hahahahahahaha….”
Aku : (ikut tertawa bersama yang lain)
Tumben. jokes nya si bapak ga garing. Namun setelah beliau pergi meninggalkan kelas aku jadi tahu makna jokes terakhir beliau.
Orang jawa pinter karena sarapan setiap hari. Sarapan setiap hari adalah budaya mereka. Dimana sarapan adalah suatu kebiasaan rutin ketika semua orang di rumah atau setiap member keluarga dapat duduk bersama setiap pagi, bersiap-siap beraktivitas, menolerir saudaranya ketika ada yang terlambat datang untuk ke meja makan, percakapan singkat di pagi hari, biasanya bapak baca koran dan sedikit2 cerita apa yang ditulis di koran, pengaturan waktu makan dan mengunyah biar berangkatnya ga telat, dan momen menghargai ibu yang telah bangun lebih pagi dengan menghabiskan sarapan padahal perut masih mual. Sebuah budaya simple yang sarat makna dan nilai.
yang aku baru sadar. What a nice kuliah. Kuliah dengan dosen2 power ini emang terkadang sesuatu banget yah.
*diceritakan kembali berdasarkan kisah nyata tadi pagi dengan gaya cerita oleh penulis sendiri, beberapa disadur dan didramatisasi, dengan pemahaman pribadi si penulis. Tapi kurang lebih begitu. Mohon maaf apabila sedikit menyinggung ras dan jenjang pendidikan. No hard feeling lah ya.*
————————————————————————————————————-
Makna Lagu ilir-ilir
Lir-ilir, Lir Ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah Angon, Cah Angon
Penekno Blimbing Kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo Mbasuh Dodotiro
Dodotiro Dodotiro
Kumitir Bedah ing pinggir
Dondomono, Jlumatono
Kanggo Sebo Mengko sore
Mumpung Padhang Rembulane
Mumpung Jembar Kalangane
Yo surako surak Iyo!!!
Tembang diatas pasti sudah akrab ditelinga kita
apalagi bagi orang-orang jawa yang notabene berada dalam wilayah penyebaran agama Wali Songo
tidak sedikit orang yang mencoba untuk menguraikan makna tembang diatas baik dalam konteks hubungannya dengan sejarah, syariat Islam bahkan Hakikat yang terkandung di dalamnya.
pada tulisan singkat ini Khaylif mencoba untuk sedikit menguraikan makna dari tembang tersebut, jika ada kekurangan atau kesalahan adalah karena keterbatasan Khaylif dalam pemahaman semoga Alloh memaafkan dan jika ada kebaikannya hal itu semata-mata datang dari Alloh SWT
Makna tembang tersebut menurut Khaylif:
1. Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)
Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.
2 Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)
Makna: Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya?
Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya.
Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa.
3. Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)
Makna: Pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.
4. Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)
Makna: Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas (no 1-3) ketika kita masih sehat (dialambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!
Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.
Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.
tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.
dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.
Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)